Ads 728x90px


Ajak 1 Teman Dapat $20, Mau..?

Prizegod

Woww benar benar gila program yang satu ini, saya dapat info ini dari seorang teman di FB, katanya ada Dollar gratis lagi. gak tanggung tanggung bayarannya sangat tinggi langsung ke account PAYPAL. mari kita bedah sama sama..
Saya kira tidak ada salahnya jika kita mencoba.Kenapa? karena jikaprogram  ini ternyata tidak scam,bisa-bisa kita kecewa.Tapi kalaupun scam, kita gak akan kecewa.karena kita tidak akan kehilangan sepersenpun uang kita.nah silahkan dicoba terlebih dahulu.Serta kita tidak perlu repot-repot.karena tiap referral mendaftar kita akan mendapatkan nilai $20. Lumayan besar bukan buwat jajan..icon biggrin Ajak 1 Teman Dapat $20, Mau..?
berikut langkah langkahnya
  1. Silahkan daftar dulu disini 
  2. Masukkan e-mail valid anda > centang Please read and agree to the terms and conditions before signing up.
  3. Pilih gift yang anda inginkan dan Klik Signup
  4. Pada tampilan berikutnya silahkan isi nama> email> alamat> password dan lain-lain kemudian klik register.
  5. Setelah masuk, pilih My Account> Your Referral Link (Referal Link anda)
  6. Selanjutnya silahkan mengundang teman-teman anda sebanyak mungkin. Atau bisa juga memasukkan email teman pada tab “Refer Your Friends” sebanyak 5 email sekaligus dan gunakan benner promo yang sudah disediakan di Promote> Banners To Promote Your Referral Link.
    Cara lain terserah anda, lewat email, blog, chat dll, yg penting cantumkan link referensi anda.
NOTE : Mengajak teman bergabung di FreePayPalCash dan dapatkan :
* Ajak 1 teman dapat $20
* Ajak 2 teman dapat $50
* Ajak 4 teman dapat $100
* Ajak 8 teman dapat $200
* Ajak 12 teman dapat $300
* Ajak 16 teman dapat $400
* Ajak 32 teman dapat $800
* dan masih banyak lagi….Langsung aja kesitusnya KLIK DISINI Atau Klik aja banner dibawah ini

»»  READMORE...

Pesta seks dengan cewek bule

Cerita Dewasa Pesta Seks – Namaku Jackie dan tentunya bukan nama asliku. Aku adalah pria yang kurang beruntung, karena sudah dua kali ingin berniat untuk berkeluarga dan dua-duanya gagal. Aku berasal dari Indonesia, tapi sudah lama sekali tinggal di negerinya “kanguru”. Dan atas saran teman-teman, maka aku mensponsori seorang cewek dari Indonesia dengan niat untuk menikah. Tapi setelah wanita itu mendapatkan izin tinggal tetap di negeri ini, wanita itu meninggalkan aku. Begitu juga dengan yang kedua, yang berasal dari Amerika Latin. Nah, karena rumah yang kumiliki ini mempunyai dua kamar dan karena aku hanya tinggal sendiri sekaligus sudah kapok untuk mencari pasangan lagi, maka kamar yang satunya aku sewakan pada seorang pelajar (cowok) dari Jepang. Namanya Gamhashira. Gamha yang playboy ini sudah dua hari pulang ke negerinya untuk berlibur setelah menamatkan SMA-nya.

Pada suatu sore di hari libur (liburan dari kerja) aku buang waktu dengan main internet, lebih kurang satu setengah jam bermain internet, tiba-tiba terdengar suara bel. Setengah kesal aku hampiri juga pintu rumahku, dan setelah aku mengintip dari lubang kecil di pintu, kulihat tiga orang gadis. Kemudian kubuka pintu dan bertanya (maaf langsung aku terjemahkan saja ke bahasa Indonesia semua percakapan kami),
“Bisa saya bantu?” kataku kepada mereka.
“Maaf, kami sangat mengganggu, kami mencari Gamha dan sudah satu jam lebih kami coba untuk telepon tapi kedengarannya sibuk terus, maka kami langsung saja datang.”
Yang berwajah Jepang nyerocos seperti kereta express di negerinya.
“Oh, soalnya saya lagi main internet, maklumlah soalnya hanya satu sambungan saja telepon saya,” jawabku.
“Memangnya kalian tidak tahu kalau si Gamha sedang pulang kampung dua hari yang lalu?” lanjutku lagi.

Kali ini yang bule berambut sebahu dengan kesal menjawab, “Kurang ajar si Gamha, katanya bulan depan pulangnya, Jepang sialan tuh!”
“Eh! Kesel sih boleh, tapi jangan bilang Jepang sialan dong. Gua tersinggung nih,” yang berwajah Jepang protes.
“Sudahlah, memang belum rejeki kita dijajanin sama si Gamha,” sekarang bule bermata biru nyeletus.
Dengan setengah bingung karena tidak mengerti persoalannya, kupersilakan mereka untuk masuk. Mulanya mereka ragu-ragu, akhirnya mereka masuk juga. “Iya deh, sekalian numpang minum,” kata bule yang berambut panjang masih kedengaran kesalnya.

Setelah mereka duduk, kami memperkenalkan nama kami masing-masing.
“Nama saya Jacky,” kataku.
“Khira,” kata yang berwajah Jepang (dan memang orang Jepang).
Yang berambut panjang menyusul, “Emily,” (Campuran Italia dengan Inggris).
“Saya Eve,” gadis bermata biru ini asal Jerman.
“Jacky, kamu berasal dari mana?” lanjutnya.
“Jakarta, Indonesia,” jawabku sambil menuju ke lemari es untuk mengambilkan minuman sesuai permintaan mereka.
Sekembalinya saya ke ruang tamu dimana mereka duduk, ternyata si Khira dan Eve sudah berada di ruang komputer saya, yang memang bersebelahan dengan ruang tamu dan tidak dibatasi apa-apa.
“Aduh, panas sekali nich?!” si Emily ngedumel sambil membuka kemeja luarnya.

Memang di awal bulan Desember lalu, Australia ini sedang panas-panasnya. Aku tertegun sejenak, karena bersamaan dengan aku meletakkan minuman di atas meja, Emily sudah melepaskan kancing terakhirnya. Sehingga dengan jelas dapat kulihat bagian atas bukit putih bersih menyembul, walaupun masih terhalangi kaos bagian bawahnya. Tapi membuatku sedikit menelan ludah. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara si Eve,
“Jacky, boleh kami main internetnya?”
“Silakan,” jawabku.
Aku tidak keberatan karena aku membayar untuk yang tidak terbatas penggunaannya.
“Mau nge-chat yah?” tanyaku sambil tersenyum pada si Emily.
“Ah, paling-paling mau lihat gambar gituan,” lanjut Emily lagi.
“Eh, kaliankan masih di bawah umur?” kataku mencoba untuk protes.
“Paling umur kalian 17 tahun kan?” sambungku lagi.

Khira menyambut, “Tahun ini kami sudah 18 tahun. Hanya tinggal beberapa bulan saja.” Aku tidak bisa bilang apa-apa lagi. Baru saja aku ngobrol dengan si Emily, si Eve datang lagi menanyakan, apa saya tahu site-nya gambar “gituan” yang gratis. Lalu sambil tersenyum saya hampiri komputer, kemudian saya ketikkan salah satu situs seks anak belasan tahun gratis kesukaanku. Karena waktu mengetik sambil berdiri dan si Khira duduk di kursi meja komputer, maka dapat kulihat dengan jelas ke bawah bukitnya si Khira yang lebih putih dari punyanya si Emily. Barangku terasa berdenyut. Setengah kencang. Setelah gambar keluar, yang terpampang adalah seorang negro sedang mencoba memasuki barang besarnya ke lubang kecil milik gadis belasan. Sedangkan mulut gadis itu sudah penuh dengan barang laki-laki putih yang tak kalah besar barangnya dengan barang si negro itu. Terasa barangku kini benar-benar kencang karena nafsu dengan keadaan. Si Emily menghampiri kami berada, karena si Eve dan Khira tertawa terbahak-bahak melihat gambar itu. Aku mencoba menghindar dari situ, tapi tanpa sengaja sikut Khira tersentuh barangku yang hanya tertutup celana sport tipis. Baru tiga langkah aku menghindar dari situ, kudengar suara tawa mereka bertambah kencang, langsung aku menoleh dan bertanya, “Ada apa?” Eve menjawab, “Khira bilang, sikutnya terbentur barangmu,” katanya.

Aku benar-benar malu dibuatnya. Tapi dengan tersenyum aku menjawab, “Memangnya kenapa, kan wajar kalau saya merasa terangsang dengan gambar itu. Itu berarti aku normal.” Kulihat lagi mereka berbisik, kemudian mereka menghampiriku yang sedang mencoba untuk membetulkan letak barangku. Si Eve bertanya padaku sambil tersipu,
“Jacky, boleh nggak kalau kami lihat barangmu?”
Aku tersentak dengan pertanyaan itu.
“Kalian ini gila yah, nanti aku bisa masuk penjara karena dikira memperkosa anak di bawah umur.”
(Di negeri ini di bawah 18 tahun masih dianggap bawah umur).
“Kan tidak ada yang tahu, lagi pula kami tidak akan menceritakan pada siapa-siapa, sungguh kami janji,” si Emily mewakili mereka.
“Please Jacky!” sambungnya.
“Oke, tapi jangan diketawain yah!” ancamku sambil tersenyum nafsu.

Dengan cepat kuturunkan celana sport-ku dan dengan galak barangku mencuat dari bawah ke atas dengan sangat menantang. Lalu segera terdengar suara terpekik pendek hampir berbarengan.
“Gila gede banget!” kata mereka hampir berbarengan lagi.
“Nah! Sekarang apa lagi?” tanyaku.
Tanpa menjawab Khira dan Emily menghampiriku, sedangkan Eve masih berdiri tertegun memandang barangku sambil tangan kanannya menutup mulutnya sedangkan tangan kirinya mendekap selangkangannya. “Boleh kupegang Jack?” tanya Khira sambil jari telunjuknya menyentuh kepala barangku tanpa menunggu jawabanku. Aku hanya bisa menjawab, “Uuuh..” karena geli dan nikmat oleh sentuhannya. Sedang Eve masih saja mematung, hanya jari-jari tangan kirinya saja yang mulai meraih-raih sesuatu di selangkangannya. Lain dengan Emily yang sedang mencoba menggenggam barangku, dan aku merasa sedikit sakit karena Emily memaksakan jari tengahnya untuk bertemu dengan ibu jarinya. Tiba-tiba Emily, hentikan kegiatannya dan bertanya padaku, “Kamu punya film biru Jack?” Sambil terbata-bata kusuruh Eve untuk membuka laci di bawah TV-ku dan minta Eve lagi untuk masukan saja langsung ke video.

Waktu mulai diputar gambarnya bukan lagi dari awal, tapi sudah di pertengahan. Yang tampak adalah seorang laki-laki 60 tahun sedang dihisap barangnya oleh gadis belasan tahun. Kontan saja si Eve menghisap jarinya yang tadinya dipakai untuk menutup mulut sedangkan jari tangan kirinya masih kembali ke tugasnya. Pandanganku sayup, dan terasa benda lembut menyapu kepala barangku dan benda lembut lainnya menyapu bijiku. Aku mencoba untuk melihat ke bawah, ternyata lidah Khira di bagian kepala dan lidah Emily di bagian bijiku.
“Uuh.. sshh.. uuhh.. sshh..” aku merasa nikmat.
Kupanggil Eve ke sampingku dan kubuka dengan tergesa-gesa kaos dan BH-nya. Tanpa sabar kuhisap putingnya dan segera terdengar nafas Eve memburu.
“Jacky.. oohh.. Jacky.. teruss.. oohh..” nikmat Eve terdengar.
Kemudian terasa setengah barangku memasuki lubang hangat, ternyata mulut Khira sudah melakukan tugasnya walaupun tidak masuk semua tapi dipaksakan olehnya.
“Slep.. slep.. chk.. chk..”
Itulah yang terdengar paduan suara antara barangku dan mulut Khira. Emily masih saja menjilat-jilat bijiku.

Dengan kasar Eve menarik kepalaku untuk kembali ke putingnya. Kurasakan nikmat tak ketulungan. Kuraih bahu Emily untuk bangun dan menyuruhnya untuk berbaring di tempat duduk panjang. Setelah kubuka semua penghalang kemaluannya langsung kubuka lebar kakinya dan wajahku tertanam di selangkangannya.
“Aaahh.. Jacky.. aahh.. enak Jacky.. teruskan.. aahh.. teruss Jacky!” jerit Emily.
Ternyata Eve sudah bugil, tangannya dengan gemetar menarik tanganku ke arah barangnya. Aku tahu maksudnya, maka langsung saja kumainkan jari tengahku untuk mengorek-ngorek biji kecil di atas lubang nikmatnya. Terasa basah barang Eve, terasa menggigil barang Eve.
“Aaahh..” Eve sampai puncaknya.

Aku pun mulai merasa menggigil dan barangku terasa semakin kencang di mulut Khira, sedangkan mulutku belepotan di depan barang Emily, karena Emily tanpa berteriak sudah menumpahkan cairan nikmatnya. Aku tak tahan lagi, aku tak tahan lagi, “Aahh..” Sambil meninggalkan barang Emily, kutarik kepala Khira dan menekannya ke arah barangku. Terdengar, “Heerrkk..” Rupanya Khira ketelak oleh barangku dan mencoba untuk melepaskan barangku dari mulutnya, tapi terlambat cairan kentalku tersemprot ke tenggorokannya. Kepalanya menggeleng-geleng dan tangannya mencubit tanganku yang sedang menekan kepalanya ke arah barangku. Akhirnya gelengannya melemah Khira malah memaju mundurkan kepalanya terhadap barangku. Aku merasa nikmat dan ngilu sekali, “Sudah.. sudah.. aku ngiluu.. sudah..” pintaku. Tapi Khira masih saja melakukannya. Kakiku gemetar, gemetar sekali. Akhirnya kuangkat kepala Khira, kutatap wajahnya yang berlumuran dengan cairanku. Khira menatapku sendu, sendu sekali dan kudengar suara lembut dari bibirnya, “I Love you, Jacky!” aku tak menjawab. Apa yang harus kujawab! Hanya kukecup lembut keningnya dan berkata, “Thank you Khira!”

Rasa nikmatku hilang seketika, aku tak bernafsu lagi walaupun kulihat Eve sedang memainkan klitorisnya dengan jarinya dan Emily yang ternganga memandang ke arahku dan Khira. Mungkin Emily mendengar apa yang telah diucapkan oleh Khira. Demikianlah, kejadian demi kejadian terus berlangsung antara kami. Kadang hanya aku dengan salah satu dari mereka, kadang mereka berdua saja denganku. Aku masih memikirkan apa yang telah diucapkan oleh Khira. Umurku lebih 10 tahun darinya. Dan sekarang Khira lebih sering meneleponku di rumah maupun di tempat kerjaku. Hanya untuk mendengar jawabanku atas cintanya. Dan belakangan aku dengar Eve dan Emily sudah jarang bergaul dengan Khira.
»»  READMORE...

Hilang keperjakaan akibat memperkosa gadis gila

Cerita Dewasa Perkosaan – Perkenalkan pembaca, aku adalah seorang cowok yang hidup di sebuah desa pinggiran kota di Jawa Tengah. Aku dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga yang begitu sederhana dan tabu membicarakan sex, sehingga aku tidak begitu paham seputar pengetahuan sex. Sampai suatu saat aku diberi tahu temanku bahwa sebenarnya aku ada karena hasil hubungan sex kedua orang tuaku. Aku sangat bimbang benarkah demikian?

Saat itu umurku baru beranjak 16 tahun, dorongan sexku sangat kuat dan aku tidak tahu cara melepaskan tekanan sex itu. Penisku menegang manakala aku melihat gambar gadis cantik di kalender yang mengenakan baju semi bikini. Dalam gambar itu aku suka sekali mengusapkan jariku di bagian buah dadanya. Beberapa kali aku bisa mimpi basah, seakan aku bertemu dan memeluk gadis dalam kalender, kemudian penisku menyemprotkan cairan nikmat. Setelah semprotan itu, aku merasakan ototku menjadi lebih kendor dan badanku ringan. Aku berusaha mencari jawaban melalui teman dan bacaan, mengapa aku biasa seperti itu.

Pada akhirnya aku menemukan rahasia sangat berarti dan berharga, ternyata untuk mengeluarkan semprotan nikmat bisa tanpa melalui mimpi basah. Berdasarkan pengalaman pribadi dan omomg-omong dengan teman, onani adalah cara paling nikmat mengendorkan otot-otot yang menegang. Malam itu pertama kali aku melihat film porno di rumah teman, setelah selesai belajar bersama, aku diajak nonton video porno. Disinilah aku memperoleh pengalaman banyak bahwa penis yang menegang artinya membutuhkan penyaluran sex, bisa lewat hubungan sex atau lewat onani. Bacaan porno yang dimiliki temanku sering aku pinjam, sambil membaca aku melakukan onani. Sehari aku bisa beronani sampai tiga kali berkat pemberitahuan temanku cara beronani paling nikmat, yaitu menggunakan minyak kelapa yang dioleskan di tangan. Pelajaran berikutnya adalah mencari kenikmatan dengan mengoleskan susu kental manis ke penis, kemudian seokor anak kucing disuruh menjilati susu di penis (boleh dicoba nikmat lho). Pengalaman berikutnya adalah membuat vagina tiruan menggunakan balon yang diisi air hangat dan diolesi minyak kelapa. Aduh mak nikmat sekali.

Kisah berikut ini adalah pengalaman pertamaku merasakan nikmatnya vagina perempuan dan sekaligus hilangnya keperjakaanku. Hari minggu aku dan temanku sepakat pergi memancing di sungai dekat pasar kecamatan. Disana ada pintu air yang airnya jernih dan tenang serta banyak ikannya. Memancing bagi kami hanya pekerjaan iseng saja, karena untuk mendapatkan ikan bukan tujuan utama. Sambil mancing kami membawa bacaan porno dan ngobrol tentang sex. Ketika kami asik merebahkan badan di rerumputan yang terlindung semak rimbun, tiba-tiba ada rombongan ibu-ibu turun ke sungai memandikan perempuan gembel muda yang otaknya tidak waras (Orang-orang di desaku pada saat itu masih banyak yang mandi di sungai. Tempat madi perempuan dipisah jauh dengan tempat mandi laki-laki dan ditutup kain. Selama mandi seorang perempuan memakai kain panjang yang disebut kemben). Sedangkan perempuan muda yang sedang dimandikan ibu-ibu, telanjang bulat sambil berdiri digosok sabun dan dikeramasi. Melihat pemandangan seperti itu birahiku memuncak. Dari jarak pandang yang cukup jelas dan tersembunyi, kami bisa melihat bentuk tubuh montok perempuan gila yang dimandikan. Kami berdua tiarap dan begitu asik menikmati tubuh telanjang yang semakin lama semakin bersih dengan warna kulit kuning langsap. Begitu juga rambut yang gembel setelah selesai dikeramas dipotong pendek. Perempuan gila itu kelihatan senang selama dimandikan ibu-ibu, terlihat ia berjingkrakan sambil mainan air.

Sekemabali dari tempat mancing, dengan perut lapar, kami menuju ke salah satu warung di pasar. Betapa kaget, ternyata di dalam warung itu sejumlah laki-laki sedang merubung perempuan gila yang tadi dimandikan untuk ditanyai nomor undian (SDSB). Perempuan itu telah mengenakan sarung dan switer bersih. Sambil cengar cengir dia membuat coret-coretan di atas karton pembungkus rokok. Semua laki-laki disitu mengikuti dengan cermat setiap goresan yang dibuat perempuan gila. Aku sendiri tidak peduli pada tingkah mereka, karena yang menjadi daya tarik adalah si perempuan gila bertubuh montok. Aku dan temanku saling pandang dan kami saling berbisik, alangkah nikmatnya bila kami bisa memandikan perempuan itu.

Sehari kemudian aku belajar di rumah temanku. Seperti hari-hari yang lalu, selesai belajar kami putar video porno meskipun filemnya hanya ada satu-satunya. Selesai nonton jam telah menunjukkan pukul 10.30 malam, aku mengayuh sepeda menuju rumah dengan diterangi cahaya bulan. Penisku sepanjang perjalanan tegang terus karena belum memperoleh penyaluran lewat onani. Jalan desa yang sangat sepi, masih aku kenali dengan baik berkat lampu sepeda dan cahaya bulan sehingga tidak akan menabrak sesuatu. Aku kaget ketika di depanku tiba-tiba melintas seorang wanita. Aku mengerem sepeaku dengan mendadak dan memperhatikan kaki perempuan yang melintas. Pikiran pertama yang terbayang dalam benakku perempuan itu kuntilanak (sejenis setan perempuan dan kalau berjalan seperti terbang), seperti kepercayaan orang-orang di desaku. Tapi aku kaget ketika mendengar suara perempuan ngomong dan ketawa kecil persis sepeti suara si tubuh montok di warung. Setelah aku perhatikan, ternyata ia perempuan gila yang dimandikan ibu-ibu di sungai.

Entah apa yang membuat pikiranku berubah kotor tiba-tiba ada harapan untuk bisa meraba tubuh perempuan telanjang. Keinginan itu sangat kuat dan aku memutar sepeda balik ke rumah teman belajarku, kami diskusikan rencana untuk bisa menelanjangi dan diraba-raba tubuh perempuan. Itu saja rencana yang ada pada kami.

Singkat kata, kami berdua meninggalkan sepeda di rumahnya dan membeli makanan di warung sebagai bekal. Ternyata perempuan gila itu sudah tidak ada di tempatnya lagi. Kami berdua mencari dengan sembunyi-sembunyi dan melintasi balik pagar jalanan, supaya tidak dilihat orang. Akhirnya ia kami menemukan perempuan itu di dekat jalan menuju lintasan ke sawah. Ia sedang duduk di tepi jalan. Dengan jantung berdegup keras, kami dekati dan kami bujuk serta kami beri makanan kemudian kami bimbing ke tepi sawah di balik tanah yang menggunung jauh dari jalan desa. Disana ada sebuah bangau kecil (tempat istirahat setelah bekerja di sawah). Setelah kami beri minuman, mulailah aku membuka switer dan sarung yang dikenakan perempuan itu tanpa kesulitan. Anehnya temanku menggigil menahan gejolak hatinya sehingga ia tidak membantu ketika aku membuka baju perempuan itu. Tubuh telanjang itu sudah ada di hadapan kami dan ternyata perempuan itu tanpa BH dan celana dalam. Penisku langsung menegang dan mengeras seperti batu. Kemudian kami rebahkan perempuan itu di papan lebar tempat duduk di bangau dengan kaki menjuntai ke bawah. Sarung dan switer digunakan sebagai bantalnya. Mulailah tanganku menggerayangi badannya, aku tarik tangan temanku yang masih menggigil untuk ikut meraba dadanya yang menggelembung kenyal. Temanku mulai tenang dan menggigilnya reda dan mulai menggerakkan tangannya di sepanjang tubuh dan perut perempuan itu. Rencana semula yang hanya meraba dan menikmati tubuh telanjang, akhirnya berubah setelah perempuan itu kami lihat mulai terangsang.

Meskipun ia perempuan gila, ternyata bisa mengeluarkan erangan nikmat ketika jariku masuk ke liang vaginanya yang mulai basah dan pinggulnya ikut digerakkan. Aku kaget ketika perempuan itu tiba-tiba teriak keras “aduh enak banget…… aduh enak…….terus….” terpaksa aku minta temanku membekap mulutnya. Aku perhatikan ternyata temanku menggigil lagi seperti orang sakit malaria. Akhirnya aku membuat inisiatif untuk menyetubuhi perempuan itu dan temanku setuju. Aku memperoleh kesempatan lebih dulu merasakan persetubuhan dan temanku akan berjaga-jaga dari jarak jauh sambil menenangkan hatinya. Kesepakatan lain adalah tidak boleh ada mani yang dikeluarkan dalam vaginanya, agar tidak terjadi kehamilan yang bisa bermasalah dikemudian hari.

Aku sedikit menggiigil ketika aku membuka baju dan celanaku. Penisku yang sudah tegang mulai kuarahkan ke vaginanya. Jari-jariku membuka sedikit bibir vaginanya untuk memudahkan penisku masuk ke dalamnya. Ketika kepala penisku masuk, perempuan itu kelihatannya memahami kalau harus membuka pahanya. Untuk memperlancar, penisku aku tarik dan aku masukkan dengan pelan dan semakin lama semakin dalam. Terasa saat penis aku tarik, ada otot yang menangkap dan menjepit. Ketika penis aku dorong ke depan, ada cengekraman dan denyutan dalam vaginanya, sehingga aku akhirnya mendorong habis penisku sampai habis ke dalam. Aku sangat kaget karena tiba-tiba perempuan gila itu bangkit dan memelukku erat badanku serta menggoyangkan pinggulnya sambil teriak nikmat. Teriakannya cukup keras terpaksa aku atasi dengan menyumpal mulutnya dengan mulutku. Meskipun mulutnya bau tidak enak, tapi rasa vagina yang mulai meremas penisku, ternyata mengalahkan segala bau yang harus aku terima. Penisku mulai bermain maju mundur sambil merebahkan badan perempuan itu. Belum sempat aku menikmati 2 menit, ujung penisku mulai ada rasa desakan yang akan menembakkan cairan. “Oohhh….. hahhhhh…….” terpaksa aku cabut penisku dan aku keluarkan di luar jatuh diantara kedua belah pahanya yang terjuntai. Agar tidak diketahui temanku kalau aku sudah sampai puncak, aku bergaya seolah-olah perempuan itu sedikit binal. Secapatnya penisku aku lap dengan tangan dan aku menarik tangannya untuk memegang penisku. Ternyata dia tahu dan mengarahkan penisku ke dalam lubang kenikmatannya. Aku masukkan dengan sekali terobos kemudian aku kocok dengan binal. Disini aku merasakan betapa nikmat dan beda rasa vagina dengan rasa onani. Tanganku memeras buah dadanya yang masih kenyal dan mulutku mulai melumat puting susunya. Sedotan vaginanya pun semakin kuat dan kembali terdengar suara teriakan keras tanda kenikmatan. Kembali mulutku menyumpal mulutnya. Aku tidak sempat mempertahankan lebih lama agar perempuan ini sampai puncak seperti yang aku lihat di video. Aku kalah lagi ketika terulang desakan dalam penisku tidak terbendung, secepatnya aku cabut penisku dan aku muncratkan di luar vaginanya. Permpuan itu kelihatan kecewa ketika aku mengakhiri kocokan tanpa peduli dia belum sampai puncak.

Aku panggil temanku untuk meneruskan dengan sedikit pesan agar jangan sampai dia teriak kencang saat mencapai kenikmatan. Caranya mulutnya harus dibekap. Aku kemudian menjauh ganti berjaga sambil melepas kepenatan. Tidak lama kemudian perempuan itu teriak sepertinya sebagai tanda kenikmatan dan pantatnya diangkat tinggi. Dari jarak pandang yang cukup jelas ternyata temanku kesulitan membekap mulutnya karena perempuan itu menggoyang-goyangkan kepalanya sangat kencang. Aku kawatir teriakannya ada yang mendengar sehingga aku lari mendekat dan aku bekap. Temanku belum berhasil melepaskan cairan kenikmatannya dan meneruskan mengocok sambil berlutut. Gerakan buah dadanya di bawah terang sinar rembulan terayun seirama kocokan temanku menyebabkan aku tidak tahan untuk memeras dan mengenyot teteknya. Aku lihat temanku menaikkan kedua kaki perempuan itu di pundaknya dan kembali menggenjot dengan kuat. Melihat pemandangan semacam itu ditambah rintihan perempuan, aku tidak tahan membiarkan penisku yang tegang kembali menanggur. Penisku membutuhkan penyaluran tahap ketiga. Aku ambil cara sambil mengenyot teteknya, tangan kiriku mengocok penis dan tangan kananku membekap mulut si perempuan itu. Aku melihat tangan perempuan itu memegang erat pinggiran tempat duduk seolah berusaha bisa mencapai puncak.

Temanku kelihatan lebih perkasa, setelah berjalan 15 menit badanya menegang dan dengan cekatan mencabut penisnya, dia mencapai puncak dan memuntahkan maninya di luar. Secepatnya kedudukan temanku aku ambil alih dan seperti gaya temanku, aku angkat kaki perempuan itu di pundakku, kemudian penisku aku hujamkan kembali di vaginanya. Gerakan mengocok aku lakukan dengan pelan-pelan agar aku bisa bertahan lama dan tidak cepat keluar. Gerakan pelan itu ternyata menambah kuat cengkeraman vaginanya disertai denyutan panjang yang kemudian diikuti gerakan liar pantatnya. Tidak lama kemudian perempuan itu merintih dan teriak panjang “Aduh…….aduh……. ennaaakkkkk banget…….. aaahhhhh” kemudian menjadi jeritan tertahan yang diikuti dengan rangkulan sebagai pertanda ia mencapai puncak. Desakan dalam penisku juga tidak bisa aku bendung lagi dan aku semprotkan maniku di dalam. Aku merasakan betapa nikmat mengeluarkan cairan itu di dalam vagina.

Kami cepat-cepat berpakain dan mengenakan pakaian perempuan itu. Kami mengalami kesulitan ketika mengenakan pakaiannya karena dia sudah tertidur pulas. Kami berdua pulang mengambil jalan memutar supaya tidak ketemu orang. Sepanjang jalan kami berdua diam tidak bicara apapun. Ketika aku mengambil sepedaku di rumahnya, jam menunjukkan pukul 2.30 pagi lebih sedikit. Sampai di rumah aku berbaring dan tidak bisa tidur, masih terbayang rasa kenikmatan yang baru saya rasakan bersama hilangnya keperjakaanku. Maafkan kebiadabanku perempuan.
»»  READMORE...

Pengalaman sex ngentot janda

Cerita Dewasa – Pengalaman sex ngentot janda ini telah terjadi beberapa tahun yang lalu. Ini merupakan pengalamanku yang pertama kali berhubungan sex dengan wanita yang lebih tua dariku. Karena aku biasanya ngentot dengan gadis-gadis belia, apalagi dengan cewek-cewek abg yang masih smp pasti hasrat sex dan nafsu ngentot ku bakal tak terbendung. Karena itu cerita ngentot wanita dewasa janda ini merupakan pengalaman spesial dan baru bagiku. Simak saja cerita dewasa berikut ini untuk mengetahui jalan ceritanya.

Aku mempunyai saudara sepupu bernama Monica yang umurnya kurang lebih 45 tahun. Dia sudah menjanda selama tiga tahun. Sekarang dia tinggal di salah satu perumahan yang tidak terlalu besar maupun kecil. Kebetulan anak dari sepupuku ini sudah ditempat kost, karena mereka lebih dekat dari tempat kuliahnya. Aku kadang-kadang mampir ketempatnya, untuk mengobrol maupun mendengar keluh kesah dia, karena dari kecil kami sangat akrab.

Suatu saat aku mampir, terlihat beberapa teman sepupuku yang sedang bertamu. Biasanya aku langsung ke ruang tamu dibelakang, membaca koran, majalah atau menonton televisi. Karena aku pikir mereka sedang mengobrol seputar cowok atau mengenai salon. Lalu aku dipanggil oleh sepupuku untuk diperkenalkan kepada teman-temannya.

“Kenalin nich Mbak Rika dan Mbak Nita” kata sepupuku.

Aku menjabat tangan satu persatu teman sepupuku ini. Karena mereka sepertinya sangat santai sekali cara mengobrolnya, aku agak sungkan lalu aku ke belakang kembali. Kudengar cara mereka bicara seperti anak-anak seumur tujuh belas tahun, mungkin bila di depan anak-anak mereka, tidak begitu cara mereka berbicara. Mereka tinggal di perumahan Bintaro, bila dengar cerita sepupuku Mbak Rika baru enam bulan ini ditinggal oleh suaminya karena kecelakaan pesawat terbang, sedangkan Mbak Nita adalah seorang istri pejabat yang sering ditinggal suaminya keluar negeri. Mbak Rika mempunyai tubuh padat, kulit putih, tinggi kurang lebih 165 cm. Sedangkan Mbak Nita agak langsing dengan payudara yang agak lumayan menonjol serta mempunyai warna kulit yang sama dengan Mbak Rika.

“Mon aku pulang dulu yach, tuch sudah dijemput anakku, masalahnya aku mau ke Bogor ada acara arisan” kata Mbak Nita.
“Lho aku pulang dengan siapa nich” sela Mbak Rika.
“Gampang nanti diantar oleh adik gue” jawab Monica seraya menepuk bahuku.
“Wach enggak ngerepotin nich Mas” kata Mbak Rika kembali.
“Enggak koq Mbak” jawabku.

Lalu aku disuruh menemani Mbak Rika mengobrol, karena sepupuku Monica hendak mandi. Kulihat Mbak Rika memakai rok hitam serta blazer berwarna pink, duduk santai dikarpet membaca majalah sambil meluruskan kakinya. Kulihat begitu bening kulit dipahanya. Lalu kami mengobrol panjang lebar, tapi kulihat dari pandangan Mbak Rika agak sedikit genit, sehingga membuatku pusing juga. Setelah Monica selesai mandi, Mbak Rika mohon pamit.

“Mas tolongin dong, maklum nich sudah tua” sambil minta tolong kepadaku supaya meraih kedua tangannya untuk berdiri.
“Ha ha ha Rika.. Rika.. Makanya minum jamu dong” ledek Monica terhadapnya.
“Aduch.. Koq begini yach pinggangku” jawab Mbak Rika sambil menunduk memegang pinggangnya.
“Nach lho.. Kenapa nich” tanya Monica.
“Enggak tahu nich” jawab Mbak Rika.

Lalu aku tuntun Mbak Rika ke dalam mobil.

“Ok. Mon.. Sampai lusa yach bye.. bye.. ”

Dalam perjalanan Mbak Rika duduk di depan, menemaniku membawa mobil, dia juga minta izin kalau dia mau rebahan sambil menurunkan sandaran jok kebelakang. Kadang kucuri pandang paha Mbak Rika yang agak tersingkap dari roknya.

“Mas sepertinya pinggangku agak salah urat nich saat duduk di karpet tadi”
“Wach itu harus cepat-cepat diurut lho.. Mbak” kataku.
“Tapi mau cari tukang urut dimana, malam-malam begini” kata Mbak Rika.
“Memang anak-anak Mbak enggak ada yang bisa mengurut Mbak?” tanyaku memancing.
“Mereka semua di Jogya Mas, kuliah disana” jawabnya.
“Yach kalau enggak keberatan, aku bisa sich mengurut pinggang Mbak Rika” pancingku lagi.
“Yach udach.. ” jawabnya mengangguk.

Singkat cerita aku menunggu Mbak Rika diruang tamu, karena dia sedang ganti baju sambil membuatkan aku teh manis. Mbak Rika keluar dari ruang tengah sambil membawa cangkir minuman untukku, dengan hanya mengenakan daster yang amat tipis, sehingga secara samar-samar terlihat BH serta celana dalamnya. Wach tambah pusing aku dibuatnya.

“Minum dulu dech Mas” sapa dia.

Lalu aku diajak ke dalam kamar Mbak Rika, untuk diurut.

“Mas bagian sini nich” sambil Mbak Rika mengangkat dasternya hingga kebahunya dalam keadaan terlungkup ditempat tidur.

Memang Mbak Rika ini mempunyai tubuh yang padat, hingga kedua belah bagian pantatnya tampak tersembul ke atas, dan yang lebih gilanya dia memakai celana dalam yang model belakangnya hanya seutas tali yang menyelip diantara kedua belah pantatnya. Tak disangka hari ini aku menikmati pemandangan yang luar biasa indahnya. Lalu aku mengambil minyak dari keranjang yang telah dia sediakan, didalam keranjang itu juga ada beberapa botol alat-alat untuk mandi. Aku mulai menggosok bagian pinggangnya dan kadang-kadang tanganku kusentuh pada bongkahan daging pada kedua belah pantatnya. Dia rupanya sangat menikmati urutan tanganku dipinggangnya, hingga dia terlelap tidur.

“Mbak gimana sudah agak enakan enggak?” tanyaku.
Dia kaget terbangun lalu, dia berkata “Mas bisa tolong sekalian betis kakiku enggak, masalahnya agak pegal-pegal juga nich”
“Yups.. ” jawabku singkat.

Tampak Mbak Rika agak merenggangkan kedua belah kakinya dan tetap dalam posisi terlungkup, tampak sekilas kulihat pinggiran lubang vagina Mbak Rika tersembul diantara celana dalamnya yang memang hanya berbentuk segitiga pada bagian depannya. Aku lalu menukar minyak gosok dengan body oil dalam keranjang diatas meja dekat tempat tidur Mbak Rika. Aku mulai menggosok dari betis ke arah paha dengan melumurkan body oil agak banyak. Terus kuurut kedua belah betis Mbak Rika hingga sampai kedua belah pahanya.

“Mas urutnya agak ditekan sedikit dibagian sini Mas, soalnya pegel amat sich” kata Mbak Rika sambil menunjuk antara paha dan pantatnya dibagian belakang, lalu dia juga membuka tali dari celana dalamnya dan menariknya lalu ditaruhnya dekat bantal dikepalanya. Makin jelas sudah kulihat vagina Mbak Rika dari bagian belakang dan tampaknya bulu-bulu jembutnya dicukur bersih olehnya. Aku mulai menekan pantatnya dengan kedua jempolku, dan kadang-kadang aku sentuh lubang anus Mbak Rika dengan sentuhan halus.

“Och..” tampak Mbak Rika mulai mendesah.

Aku tuang body oil banyak-banyak dikedua bongkahan daging dipantatnya, lalu aku mulai menggosoknya turun naik dari kedua pahanya. Lalu Mbak Rika menyuruhku menaruh body oil ditelapak tanganku, lalu dipegangnya tanganku dan ditaruh disela-sela lubang kemaluannya.

“Mas tolong gosok dibagian ini yach Mas” pintanya.

Lalu aku mulai menggosok bibir kemaluannya mulai dari lubang anus Mbak Rika.

“Och.. Mas teruskan Mas.. Och.. ”

Kulihat Mbak Rika mulai terangsang oleh sentuhan-sentuhan kelima jariku. Tanpa buang waktu sambil menggosok body oil kumasukan jari tengahku ke dalam lubang kemaluannya, terus kulalukan beberapa kali, dan kulihat kedua tangan Mbak Rika meramas keras sprei ditempat tidurnya. Tiba-tiba Mbak Rika bangun dari tempat tidurnya lalu menyerangku dengan ciuman dibibirku sambil mempermainkan lidahnya. Dan dia berbisik.

“Mas aku buka bajunya yach”

Aku hanya mengangguk tanda setuju. Dilepaskannya baju dan celanaku, hingga tak selembarpun benang menempel ditubuhku.

“Daster Mbak aku buka juga yach”

Diapun mengangguk setuju. Aku disuruhnya duduk disamping tempat tidurnya, lalu disodorkan kedua belah buah dadanya kemulutku, dan aku sambut dengan melumat kedua belah bongkahan daging kenyal didadanya. Tangan kananku juga sudah bermain disekitar vagina Mbak Rika, tampaknya bekas body oil yang tadi sudah bercampur dengan cairan bening dilubang kemaluan Mbak Rika. Dia makin mendekap kepalaku kedadanya, dan kadang-kadang pinggulnya menghentak-hentak ke arahku, saat jari-jariku keluar masuk ke dalam lubang kemaluannya.

Lalu dia jongkok dihadapanku dan mulai memasukan penisku ke dalam mulutnya, tampak penisku hilang ditelan oleh gumulan mulutnya hingga masuk menyentuh tenggorokannya. Rasa nikmat mulai menjalar keubun-ubun kepalaku. Lalu dia permainkan lidahnya pada ujung bagian bawah penisku. Wach sangat pintar sekali pikirku Mbak Rika ini cara merangsang laki-laki.

“Mas mau khan gantian” pintanya.

Aku mengerti bahwa Mbak Rika minta dijilati vaginanya. Lalu dia mengambil handuk kecil, disemprotnya handuk tersebut dengan minyak wangi, yang kutahu bukan minyak wangi lokal, lalu dibersihkan selangkangannya dengan handuk tersebut. Lalu diapun tidur terlentang dengan mengganjal pantatnya dengan dua buah bantal tidurnya. Maka tampak jelas lubang kemaluan Mbak Rika yang telah mempunyai bibir disisi kanan kirinya dengan warna merah kecoklat-coklatan. Dan tampak pula lubang anus Mbak Rika yang sudah berwarna coklat tua, pasti dia pernah bermain anal sex juga nich pikirku. Dan memang tidak terlihat sehelai rambutpun disekitar kemaluan dan anusnya.

Lalu aku mulai jilat bibir kemaluan Mbak Rika, dan memang tidak tercium bau yang aneh-aneh, berarti memang Mbak Rika sangat rajin merawat tubuhnya. Dia mulai menggelinjang diatas tempat tidurnya, saat kusapu kemaluannya dengan lidahku. Lalu aku oleskan telunjukku dengan body oil, dan kumasukan pelan-pelan ke dalam lubang anusnya, berbarengan dengan lidahku mempermainkan kelentitnya.

“Och.. Och.. Och..!!”

Tampak teriakan Mbak Rika sepertinya tidak menghiraukan akan ada orang lain yang mendengarkannya.

“Teruskan Mas.. Jangan berhenti.. Och.”

Terus kupermainkan kedua lubang Mbak Rika, akhirnya dia memintaku untuk memasukkan penisku ke dalam lubang kemaluannya. “Mas.. Pakai kondom yach.., itu ambil didalam laci”

Ternyata didalam laci kulihat bukan hanya kondom, tetapi ada beberapa penis yang terbuat dari karet elastis juga terdapat didalamnya. Setelah kupakai kondom, kumasukan penisku ke dalam kemaluannya, langsung aku hentak keras beberapa kali lubang kemaluannya. Iapun mengimbangi dengan mengangkat pantatnya tinggi-tinggi, terus kulakukan permainan keras tersebut selama tiga puluh menit, hingga kulihat Mbak Rika tidak lagi melakukan perlawanan. Sedangkan penisku belum ada tanda-tanda mau mengeluarkan pejunya, lalu aku cabut penisku dari lubang kemaluan Mbak Rika. Perlahan-lahan aku masukan ke dalam lubang anus Mbak Rika sambil meneteskan body oil dibagian atas penisku.

“Pelan-pelan Mas..”

Terus aku tekan penisku hingga terpendam habis dilubang anus Mbak Rika, dan pelan-pelan juga aku tarik, lalu aku masukan kembali, sampai Mbak Rika tidak membuat reaksi tanda sakit dilubang anusnya. Aku mulai menggenjot tanpa henti penisku ke dalam lubang anusnya, dan karena tidak selonggar lubang kemaluan Mbak Rika, pejuku mulai berlomba-lomba ingin keluar.

Dan saat pejuku hendak muncrat kutekan penisku dalam-dalam sambil mencium bibir dan merangkul tubuh Mbak Rika kuat-kuat. Setelah itu aku terkulai disisi tubuh Mbak Rika. Dan kulihat Mbak Rika mencabut kondomku lalu membersihkan penisku dengan handuk kecilnya. Lalu iapun merangkul diriku, sambil berbisik.

“Jaga rahasia kita berdua ini yach Mas..”

Akupun mengangguk lalu kukecup keningnya, sambil merangkulnya erat-erat.
»»  READMORE...